Contoh Tinjauan Pustaka Konsistensi Tanah dan Angka Atterberg

Contoh Tinjauan Pustaka Konsistensi Tanah dan Angka Atterberg - Tanah merupakan bagian paling atas dari kerak bumi yang menjadi bagian dari kehidupan organisme ataupun mikroorganisme serta tersusun atas berbagai mineral dan material organik dan anorganik lainnya (Sari, 2015). Konsistensi tanah didefinisikan sebagai kekuatan dan gaya kohesif alami tanah serta resistansi tanah terhadap disintegrasi mekanik, deformasi dan pemecahan (rupture) struktur tanah. Faktor utama yang mempengaruhi konsistensi tanah adalah tekstur tanah terutma kandungan lempungnya dan kondisi kelengasan tanah atau kadar air tanah (kering, lembab, basah). Konsistensi tanah penting untuk menentukan cara dalam tanah dan juga penting bagi penetrasi akar tanaman di lapisan bawah dan kemampuan tanah menyimpan lengas (Hanafiah, 2005).



Read more :








Penentuan konsistensi tanah bisa dilakukan dengan dua cara yaitu di lapangan dan laboratorium dengan pendekatan angka-anga Atterberg. Angka Atterberg adalah persentase berat lengas tanah yang diukur pada saat tanah mengalami perubahan konsistensi. Konsistsnsi tanah menunjukkan kekuatan daya adhesi dan kohesi butir-butir tanah dengan benda lain.Hal ini ditunjukkan oleh daya tahan tanah terhadap gaya yang akan mengubah bentuk. Dalam klasifikasi angka Atterberg dapat dilihat pada table 2.1 berikut : Adapun Evaluasi Angka-Angka Atterberg adalah sebagai berikut :

Tabel 2.1 Evaluasi Angka-Angka Atterberg













































NilaiPlastisitasJangka olahBatas mengalir
Sangat rendah0-51-3< 20
Rendah6-104-821-30
Sedang11-179-1531-45
Tinggi18-3016-2546-70
Sangat tinggi31-4326-4071-100
Ekstrim tinggi> 43>40>100

(Hardjowigeno,1987).

 

Berkaitan table diatas pengukuran konsistensi tanah di laboratorium secara spesifik akan menambah ketelitian perkiraan suatu konsistensi tanah (Donahue, et al, 1977). Namun, angka – angka Atterberg kurang sesuai jika digunakan dalam bidang pertanian karena angka – angka Atterberg bersifat statis atau hanya menggambarkan hubunan antara tanah dan air, sedangkan kegiatan pertanian berhubungan dengan makhluk hidup yakni tanaman (Mawardi, 2011).

Batas-batas Atterberg merupakan empat batas pada sistem tanah dan air yang erat kaitannya dengan konsistensi tanah. Batas-batas tersebut ialah batas cair (batas antara cair dan plastis), batas plastis (batas antara semisolid dan plastis), dan batas kerut (batas antara solid dan semisolid). Dalam ini kondisi tanah pada saat kondisi cair adalah tanah lumpur yang bersifat seperti cairan (tidak dapat mempertahankan konsistensinya). Kondisi plastis yaitu merupakan tanah mudah dibentuk dan tidak retak saat dipilin namun masih dapat mempertahankan konsistensi ataupun bentuknya. Kondisi semi solid dimana tanah sedikit basah sehingga mekerut saat dipegang, namun mudah patah jika dibentuk (tidak plastis), serta kondisi solid yaitu kondisi pada saat tanah kering, bersifat keras dan teguh, bernilai kadar air sangat rendah.

Batas cair merupakan batas dimana tanah berada pada posisi diantara cair dan plastis atau dengan kata lain tanahnya hampir mempunyai sifat seperti zat cair. Pada kondisi ini butiran menyebar dan berkurangnya kadar air berakibat berkurangnya volume tanah. Massa tanah pada keadaan ini mempunyai kekuatan geser 2,5 gram/cm2. Batas plastis merupakan suatu keadaan dimana tanah dapat digulung menjadi gulungan kecil-kecil dengan diameter sekitar 3,2 mm, letaknya juga berada di antara semisolid dengan plastis. Batas antara batas cair dengan batas plastis disebut dengan indeks plastisitas. Sedangkan pada batas kerut merupakan suatu keadaan dimana tanah sifatnya berada diantara solid dan semisolid. Keadaan tersebut mempunyai kadar air tanah pada massa tanah tidak lagi mengalami perubahan volume selama pengerutan. Pada saar ini massa tanah mengalami pengerutan residu dimana massa tanah mengalami penguapan air tapi tidak diikuti perubahan volume.

Konsistensi sangat dipengaruhi oleh kadar air. Pada saat kering konsistensi keras, karena dipengaruhi oleh sementasi. Apabila tanah diolah dalam keadaan kering akan membutuhkan daya yang besar dan hasil yang didapat berupa bongkah tanah Dalam keadaan lembab molekul air akan mengelilingi butir tanah dan menurunkan efek sementasi, saai ini merupakan saat yang tepat untuk mengolah tanah. Saat kadar air bertambah maka akan terbentuk lapisan tipis air pada butir tanah, saat ini tanah akan mempunyai sifat lengket.

Konsistensi tanah basah dapat diamati saat tanah berada diatas kapasitas lapangan .Pengamatan dilakukan dengan menentukan kekerutan (kekerutan bahan tanah saat ditekan antara jari dan telunjuk) dan plastisitas (bahan tanah diubah bentuknya seperti cacing). Konsistensi lembab dapat diamati pada saat kondisi kandungan lengas kurang lebih antara kering angin dan kapasitas lapangan. Penentuan konsistensi lembab dilakuakan dengan cara memecahkan agregat (bongkah) dalam keadaan kering angin menggunakan ibu jari dan telunjuk atau menggunakan tangan. Jenis tanah tertentu mempunyai konsistensi yang tidak sulit atau sesuai dengan kriteria sehingga pengamat harus mengamati konsistensi yang berbeda (Sutanto, 2005).

Posting Komentar

0 Komentar