Laporan Praktikum Penggilingan Padi

Laporan Praktikum Penggilingan Padi

BAB I

PENDAHULUAN

  • LATAR BELAKANG


Beras merupakan bahan pangan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, baik di kota maupun di pedesaan. Dengan konsumsi beras yang sangat tinggi, sekitar 130 kg per kapita per tahun, maka beras yang harus disediakan setiap tahunnya, harus melebihi jumlah tersebut agar tercapai kedaulatan pangan yang diidam-idamkan oleh bangsa Indonesia. Beras tidak dapat diperoleh secara langsung dari hasil pertanianan, melainkan melalui beberapa tahapan, salah satunya proses penggilingan.

Proses penggilingan padi adalah tindakan mengolah bentuk fisik dari butiran padi menjadi beras putih. Butiran padi yang memiliki bagian-bagian yang dapat dimakan dan bagian tidak layak dimakan, oleh sebab itu perlu dipisahkan. Dalam perkembangan nilai pengetahuan dan teknologi saat ini kita telah banyak mengenal macam-macam mesin baik dalam industri penggilingan padi mesin, pembersih gabah, pemecah kulit, penyosoh, dan ayakan beras.  Dalam hal ini mesin-mesin tersebut telah membantu dalam proses produksi pada penggilingan padi serta peningkatan mesin beras yang dihasilkan.

Proses pemanenan dan penanganan paska panen padi harus dilakukan dengan cara dan penggunaan teknologi yang tepat, untuk menekan susut mutu dan susut jumlah. Penggilingan padi mempunyai peranan yang sangat vital dalam mengkonversi padi menjadi beras yang siap diolah untuk dikonsumsi maupun untuk disimpan sebagai cadangan. Kapasitas giling dari seluruh penggilingan padi yang ada di suatu desa sebaiknya mencukupi baik dari segi produksi maupun penanganan pascapanennya. Dengan demikian, usaha penggilingan padi harus dapat menjamin kelangsungannya, agar usaha pemenuhan kebutuhan akan beras dapat dilakukan secara optimal.



Read more :








Sebagai mahasiswa Teknik Pertanian dan Biosistem, memiliki tanggung jawab dengan adanya ilmu teknik pengolahan hasil pertanian, diharapkan mampu memecahkan persoalan-persoalan seperti diatas dan masalah lain yang timbul seiring dengan perkembangan kemajuan teknologi dan perkembangan kebutuhan manusia akan bahan pangan hasil pertanian sehingga dapat menciptakan kehidupan yang lebih sejahtera.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Beras merupakan salah satu kebutuhan pokok penduduk Indonesia karena sebagian besar mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Salah satu solusi bijak yang bisa ditempuh untuk mengatasi kelangkaan beras adalah dengan memaksimalkan produksi beras dalam negeri dengan cara menekan kehilangan hasil selama pascapanen. Penggilingan padi adalah salah satu tahapan pascapanen padi yang terdiri dari rangkaian beberapa proses dimana proses utamanya adalah pemecahan kulit (husking) dan penyosohan (polishing) untuk mengolah gabah menjadi beras siap konsumsi (Dewi,2009).

Penggilingan beras berfungsi untuk menghilangkan sekam dari bijinya dan lapisan aleuron, sebagian mapun seluruhnya agar menhasilkan beras yang putih serta beras pecah sekecil mungkin. Setelah gabah dikupas kulitnya dengan menggunakan alat pecah kulit, kemudian gabah tersebut dimasukkan ke dalam alat penyosoh untuk membuang lapisan aleuron yang menempel pada beras. Selama penyosohan terjadi, penekanan terhadap butir beras sehingga terjadi butir patah. Menir merupakan kelanjutan dari butir patah menjadi bentuk yang lebih kecil daripada butir patah (Damardjati, 1988).

Proses pengupasan akan berjalan baik apabila gabah memiliki kadar air yang sesuai yaitu antara 13-15%(Afzalinia dkk, 2002). Pada kadar air yang lebih tinggi proses pengupasan akan sulit karena sekam sulit dipecahkan. Sebaliknya, pada kadar air yang lebih rendah, butiran padi akan mudah pecah atau patah sehingga akan menghasilkan banyak beras patah atau menir. Untuk mendapatkan kualitas pengupasan yang baik, maka penyetelan mesin pemecah kulit perlu dilakukan secara tepat. Penyosohan dilakukan untuk membuang lapisan bekatul dari butiran beras. Di samping membuang lapisan bekatul, pada proses ini juga dibuang bagian lembaga dari butiran beras. Untuk mendapatkan hasil yang baik, proses ini biasanya dilakukan beberapa kali, tergantung pada kualitas beras sosoh yang diinginkan. Makin sering proses penyosohan dilakukan, atau makin banyak mesin penyosoh yang dilalui, maka beras sosoh yang dihasilkan makin putih dan beras patah yang dihasilkan makin banyak.

Susut mutu dari suatu hasil giling dapat diidentifikasikan dalam nilai derajat sosoh serta ukuran dan sifat butir padi yang dihasilkan. Umumnya semakin tinggi derajat sosoh, persentase beras patah menjadi semakin meningkat pula. Derajat  sosoh  beras  (whiteness)  hasil penggilingan sangat terkait erat dengan proses penyosohan. Derajat sosoh umumnya berbanding terbalik dengan persentase  beras kepala yang dihasilkan. Untuk mencapai derajat sosoh  yang  baik,  maka  proses  pelepasan katul dari beras pecah kulit  membutuhkan waktu  yang  lebih  lama,  dengan  demikian konsekuensinya adalah semakin banyak beras yang mengalami kehancuran selama proses penyosohan. Linearitas antara derajat sosoh dengan lama penyosohan memiliki nilai yang cukup baik  (R2 > 90) (Yadav dan Jindal, 2008).

Ukuran butir beras hasil giling dibedakan atas beras kepala, beras patah, dan menir. Berdasarkan persyaratan yang dikeluarkan oleh Bulog, beras kepala merupakan beras yang memiliki ukuran lebih besar dari 6/10 bagian beras utuh. Beras patah memiliki ukuran butiran 2/10 bagian sampai 6/10 bagian beras utuh. Menir memiliki ukuran lebih kecil dari 2/10 bagian beras utuh atau melewati lubang ayakan 2.0 mm (Waries, 2006).

Posting Komentar

0 Komentar

close