Laporan Praktikum Penyimpanan Buah Segar

Laporan Praktikum Penyimpanan Buah Segar

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Bahan pangan hasil pertanian, umumnya memiliki sifat mudah rusak. Kerusakan yang terjadi pada bahan-bahan ini akibat adanya aktivitas dari bahan tersebut dan aktivitas dari mikroorganisme yang hidup di permukaan maupun di dalam bahan pangan hasil pertanian tersebut. Dalam keadaan normal, setelah dipetik atau diambil dari pohon induknya, bahan pangan tidak akan bertahan lama akibat kedua aktivitas tersebut. Sebagian bahan pangan, terutama buah, sangat diminati oleh penikmatnya dalam keadaan segar, seperti dimakan langsung setelah dipetik. Buah akan terasa lebih segar ketika baru saja dipetik dari pada ketika telah dipisahkan dari pohonnya beberapa waktu. Dalam keadaan alami, semakin lama buah dibiarkan setelah petik, kualitasnya akan semakin menurun.

Dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, diperlukan suatu metode untuk dapat menjaga kualitas buah lebih lama setelah dipetik. Kesegaran dan kualitas buah harus dapat dijaga selama beberapa waktu setelah panen agar buah dapat didistribusikan ke masyarakat dari para petani. Sebagai mahasiswa program studi Teknik Pertanian dan Biosistem, memegang peran untuk dapat mengembangkan teknik-teknik untuk dapat mewujudkan distribusi buah segar dari petani sampai ke masyarakat sehingga kebutuhan pangan masyarakat dapat terpenuhi dengan baik. Dalam praktikum ini, mahasiswa mempelajari salah satu pengawetan buah dengan penyimpanan dingin dan coating terhadap bahan pangan segar.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Buah adalah salah satu sarana bagi tumbuhan angiospermae untuk melanjutkan keturunannya secara alami. Sebagian besar buah yang dihasilkan oleh tumbuhan ini dapat dimanfaatkan oleh manusia sebagai bahan pangan. Buah-buahan yang dapat dimanfaatkan, sebagian besar telah dimanfaatkan oleh manusia maupun hewan. Sebagai timbal baliknya, manusia telah turut membantu proses perkembangbiakan tumbuhan dengan membudidayakan tumbuhan-tumbuhan pangan ini untuk keperluan pemenuhan pangan mereka (Lewis, 2002).



Read more :








Buah biasanya dikonsumsi dalam kondisi segar seperti setelah petik. Pada masa itu, kandungan air dalam buah masih optimal dan memiliki kesegaran paling baik. Cita rasa kesegaran yang ditimbulkan oleh buah pada masa ini, sangat berbeda dari pada buah yang dibiarkan begitu saja selama beberapa waktu sejak dipetik. Aktivitas buah dan organisme di permukaan maupun didalam buah, membuat kesegatan dan kualitas buah menurun waktu demi waktu (BetterHealth, 2011).

Pelapisan makanan (food coating) adalah salah satu proses dari industri pertanian terutama pengolahan bahan pangan yang merupakan kegiatan penerapan cairan atau bubuk pada permukaan produk hasil pertanian. Pelapisan dilakukan untuk mencegah terjadinya transfer gas-gas yang berperan dalam kegiatan resprasi bahan pangan (Embuscado dan Huber, 2009). Pelapisan dilakukan dengan melapisi bahan dengan lapisan tipis larutan pelapis.

Bahan pelapis yang dapat digunakan ada beberapa macam, diantaranya nano kitosan yang dibuat dengan campuran CH3COOH glasial, NH3, dan aquades. Bahan-bahan pelapis lain yang dapat digunakan dapat berupa bahan pelapis alami seperti madu, gula, coklat dan lain-lain. Bahan pelapis dewasa ini semakin berkembang dengan muncul bahan-bahan pelapis dengan tujuan-tujuan yang spesifik untuk bahan-bahan tertentu (Baldwin et al, 2016).

Pelapisan juga dapat dilakukan secara elektrostatik. Menurut Schroen (2010), pengisian muatan elektrostatik bubuk (kering) pada permukaan bahan, biasanya didasarkan pada pengisian korona, menggunakan gaya aerodinamis, dan elektrostatik, partikel bubuk dipercepat ke permukaan target atau bahan. Dengan metode ini, penurunan kesegaran bahan dapat dikurangi secara signfikan. Buah-buahan dan sayur dapat disimpan dalam jangka waktu yang lebih lama.

Posting Komentar

0 Komentar

close