Struktur dan Tekstur Tanah – Sifat Alami Tanah

Penjelasan mengenai Struktur dan tekstur tanah

BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang


Setiap makhluk hidup di dunia ini akan membutuhkan peran dari benda atau sesuatu yang berada disekitarnya. Salah satu benda yang dibutuhkan untuk menunjang aktivitas makhluk hidup yaitu tanah. Keberadaan tanah menjadi hal yang sangat penting, mengingat seluruh kegiatan seperti bercocok tanam, membangun rumah, dan lain sebagainya membutuhkan tanah. Meski begitu, tidak semua tanah dapat ditanami dan dipakai untuk mendirikan bangunan. Ada jenis-jenis tanah tertentu yang sulit menjadi media bagi tanaman dan digunakan untuk membangun gedung. Hal-hal yang mempengaruhi jenis tanah tersebut salah satunya adalah struktur dan tekstur tanah. Praktikum ini ditujukan untuk mempelajari struktur dan tekstur tanah. Praktikum tersebut penting dilakukan karena tanah dapat digunakan dalam pemilihan komoditas tanam, penentuan perlakuan terhadap tanah, dan pemilihan alat pertanian yang tepat. Selain itu pengenalan tekstur dan struktur tanah juga dapat dimanfaatkan untuk mengetahui rekayasa pengairan dan irigasi yang tepat pada suatu lahan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Struktur Tanah

Struktur tanah adalah kumpulan dari gumpalan-gumpalan atau agregat tanah yang membentuk sebuah bentukan tertentu dengan ukutan dan kemampatan tertentu, misalnya membentuk ring, granuler, tiang, lempeng, dan prisma. Struktur tanah ini terbentuk melalui dua fase yakni penggumpalan dan sementasi. Pada proses penggumpalan, yakni partikel tanah saling membentuk agregat tanah. Selanjutnya pada proses sementasi, berperan agen agregasi seperti bahan organik, kalsium, oksida besi, dan alumunium yang membuat agregat tanah menempel satu sama lain. Pada struktur tanah terdapat beberapa tipe yang disajikan pada Gambar 2.1 berikut :

Sumber : Graha, 2015.

Gambar 2.1 Tipe struktur tanah.

Tipe tanah yang pertama yaitu tipe granular atau spheroidal, agregat tipe ini biasanya punya diameter 2 mm sampai 1 cm dengan bentuk bulat simpul. Biasanya ada pada tanah dengan kandungan organik yang tinggi dengan akar berlimpah. Infiltrasi tanah ini sangat besar. Kemudian ada tipe plate dimana agregat ini berbentuk seperti lempengan piringan tipis horizontal. Biasanya ada dalam tanah betipe padat atau tanah liat. Jenis tanah ini lambat menyerap air. Pada tipe block berbentuk block tidak teratur dari 1,5 – 10 cm seperti kubus atau kotak. Jenis struktur ini memiliki daya resapan sedang. Untuk tipe berbentuk kolom vertikal seperti prisma atau sering juga disebut collumnar. Kelompok ini biasa muncul pada horison B dengan tipe porositas menengah. Pada kategori struktur tanah massive yaitu tanah ini punya struktur yang sulit dilhat. Setelah kering tanah ini sulit untuk pecah dan punya daya porositas yang lambat. Sedangkan pada single-grained yaitu tanah ini didominasi oleh partikel pasir dan tidak ada pembentukkan agregat. Umumnya tanah tipe ini punya daya serap air yang cepat.

Selain prosesnya, struktur tanah terbentuk karena beberapa faktor salah satunya yaitu bahan induk. Perbedaan penyusun dari bahan induk mempengaruhi pembentukan dari agregat tanah. Kandungan fraksi liat berpengaruh terhadap agregasi struktur tanah jika kandungannya melebihi 30%. Selain bahan induk, organisme tanah juga berpengaruh sebab pencucian dan perombakan sisa tanaman menjadi bahan organik yang merupakan agen agregasi tanah dipercepat oleh keberadaan organisme tanah. Selanjutnya tanaman juga menjadi factor struktur tanah karena membantu pembentukan agregat dengan cara akarnya dapat menembus membentuk celah-celah. Kemudian waktu dan iklim menjadi factor yang juga menentukan struktur tanah, semakin lama waktu berjalan maka agregat tanah yang terbentuk akan semakin mantap diikuti dengan iklim yang berpengaruh terhadap proses pengeringan, pembahasan, pembekuan, dan pencairan dari tanah tersebut (Taufiqullah, 2018).

Struktur tanah erat kaitannya dengan pori tanah sebab bentuk dari tiap struktur tanah ada yang memberikan celah untuk pori dan ada yang tidak. Keberadaan pori ini mempengaruhi salah satunya yakni kecepatan dari infiltrasi (aliran air dari permukaan tanah menuju dalam tanah). Apabila struktur tanah memiliki banyak pori maka kecepatan infiltrasinya tinggi. Selain itu, erosi menjadi semakin kecil karena drainase lancer dan air bias langsung diserap masuk ke dalam tanah tanpa harus mengalir di permukaan atau bahkan menggenang. Struktur tanah juga mempengaruhi kapasitas penyimpanan air. Apabila porinya besar sebagai akibat dari agregat yang besar maka tanah akan cepat meloloskan air. Tentunya kapasitas penyimpanan air menjadi rendah ( Susanto, 2002).

2.2 Tekstur tanah

Tekstur tanah adalah presentase atau perbandingan dari fraksi antara pasir, debu, dan lempung yang tidak dapat diusik atau diubah oleh perlakuan fisik biasa. Presentase dari tiap fraksi tersebut akan mengarahkan kepada klasifikasi tekstur tanah tertentu dengan menggunakan sebuah segitiga tekstur seperti pada Gambar 2.2 berikut :



Read more :








Sumber : Rycroft , 1995.

Gambar 2.2 Segitiga Tekstur Tanah untuk Klasifikasi Tekstur tanah.

Tekstur tanah mempengaruhi karakteristik suatu tanah misalnya konsistensi dan drainase. Kedua hal tersebut sebenarnya ditentukan terutama oleh fraksi lempung. Hal ini dikarenakan lempung merupakan fraksi yang sangat unik dan partikelnya paling kecil diantara pasir dan debu. Lebih mudah untuk melakukan analisis jika fraksi lempung menjadi parameternya sebab sifatnya yang mencolok dapat dirasakan dengan lebih jelas dimana lempung biasanya memiliki ketika keadaan kering cenderung mengerut dan akan pecah jika dijatuhkan. Sedangkan lempung ketika basah memiliki kohesi yakni gaya tarik dengan partikel lain seperti air. Hal ini membuat lempung ketika basah mengalami sedikit pemuaian dan lengket karena adsorbsinya (penarikan partikel lain di permukaan partikelnya) terhadap air. Lempung biasanya juga memiliki drainase yang buruk karena keadaan partikelnya yang sangat kecil memungkinkan tidak adanya pori dan adsorbsinya terhadap air menyebabkan air sulit untuk mengalir melewatinya (Melby, 1995).

Dalam analisis struktur menggunakan mikroskop kemudian diukur diameter terbesar, terkecil, dan rata-rata dari serpihan tanah yang diamati. Apabila ukuran dari diameter itu mendekati angkatertentu maka dapat dikategorikan ke dalam struktur seperti yang tersaji dalam Tabel 2.1.

 

 

Tabel 2.1 Identifikasi Struktur Tanah
















































 

Butiran
Tipe
Lempeng (mm)Prisma (mm)Gumpal (mm)Granuler (mm)
Sangat halus11051
Halus1-210-205-101-2
Menengah2-520-5010-202-5
Kasar5-1050-10020-505-10
Sangat kasar1005010

Sedangkan untuk analisis tekstur tanah digunakan prinsip hokum stokes. Hokum stokes menyatakan bahwa ketika suatu bola dijatuhkan pada fluida dengan viskositas tertentu maka meski bola bermassa ringan tetapi dengan viskositas rendah dan kecepatannya akan menyentuh dasar tetap tinggi, sedangkan jika bola ringan melewati fluida dengan viskositas tinggi maka kecepatan sampai ke dasar akan lebih rendah (flower, 2018). Oleh sebab itu, untuk pengambilan fraksi lempung dan debu digunakan prinsip hukum ini. Pada sebuah tabung yang diisi air, tentu fraksi yang akan lebih cepat sampai kebawah adalah pasir, disusul debu, kemudian lempung. Ketika akan mengambil debu digunakan jarak 20 cm dari permukaan dan untuk lempung jaraknya 5 cm dari permukaan.

Posting Komentar

0 Komentar

close