Agroforestry Alley Cropping - Contoh desain penerapan agroforestri kombinasi budidaya lorong

Agroforestry Alley Cropping - Pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan dan mencontohkan salah satu desain agroforestri (Agroforestry) yang dikombinasikan dengan budidaya lorong (alley cropping). langsung saja simak penjelasan berikut ini:

Sistem Agroforestri

Agroforestri menurut Lorenz dan Lal (2018) adalah penyertaan pohon atau tanaman keras berkayu lainnya dalam sistem pertanian untuk menangkap manfaat interaktif tanaman keras dan musiman, dan/atau hewan untuk produksi pertanian berkelanjutan.

Lahan Kering

Lahan kering adalah hamparan lahan yang jarang atau tidak pernah digenangi atau tergenang air pada sebagian besar waktu dalam setahun. Istilah lahan kering seringkali digunakan untuk padanan upland, dryland, atau unirrigated land. Kedua istilah terakhir mengisyaratkan penggunaan lahan untuk pertanian tadah hujan (Wahyunyo dan Shofiyati, 2012). Kebanyakan lahan kering tersebar pada daerah yang memiliki tingkat kemiringan cukup besar, bentuk wilayah berombak sampai berbukit dengan curah hujan yang tinggi. Kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya erosi, sehingga produktivitas pertanian rendah.

Budidaya Lorong (Alley Cropping)

Pengertian Budidaya Lorong : Agroforestry Alley Cropping

Sistem Budidaya Lorong (Alley Cropping) merupakan salah satu alternatif sistem produksi yang diterapkan pada areal humid dan subhumid tropic untuk mengatasi masalah degradasi lahan akibat praktek tebas-tebang-bakar. Sistem ini diperkenalkan untuk pertama kalinya pada tahun 1970-an oleh Interational Institute of Tropical Agriculture (IITA) badan Nigeria. Menurut Kang et al. (1984) dalam Ariani dan Haryati (2019), Sistem Budidaya Lorong (Alley Cropping) adalah sistem agroforestry yang mana tanaman pangan ditanam dilorong yang dibentuk oleh pagar dan atau pohon dan atau semak. Dalam literatur lain, Sistem Budidaya Lorong (Alley Cropping) didefinisikan sebagai salah satu bentuk pemanfaatan lahan dengan cara mengombinasikan tanaman semusim, tanaman tahunan, dan tanaman pakan ternak (agrosilvopasture) (Malian et al., 1991 dalam Murdelulono et al., 2006).

Kelebihan Budidaya Lorong (alley cropping)

Penerapan sistem budidaya lorong (alley cropping) memiliki beberapa kelebihan atau keuntungan, yaitu sebagai berikut :
  1.  Membantu memenuhi kebutuhan bahan organik dan hara terutama nitrogen untuk tanaman pangan. Tanaman pagar pada sistem alley cropping dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan menyerap unsur hara dari lingkungan sekitarnya dan dari lapisan tanah yang lebih dalam (pendaurulangan unsur hara yang merembes melalui pemompaan unsur hara ke atas) dan mengkonsentrasikannya ke dalam biomassa perenial dan lapisan tanah bagian atas. Selain itu, tanaman pagar juga dapat meningkatkan kadar bahan organik di dalam lapisan tanah atas melalui adanya interaksi dengan mikorisa dan bakteri tanah (pengikatan nitrogen, pelarut fosfat) dan dengan menyerap unsur hara dari aliran udara dan air. Selama periode tumbuhnya tanaman pangan, tanaman pagar secara periodik dipangkas. Hal ini bertujuan untuk mengurangi naungan tanaman sisipan. Ketika tidak ada tanaman pangan di lahan, pagar tanaman dibiarkan tumbuh secara bebas untuk menutupi tanah (Bainard et al., 2011).
  2. Mengurangi laju aliran permukaan dan erosi apabila tanaman pagar ditanam secara rapat menurut garis kontur. Tingkat erosi tanah pada lahan berlereng cenderung tinggi. Dengan adanya sistem budidaya lorong (alley cropping) dapat mengurangi terjadinya limpasan permukaan (run off) ketika musim hujan dan mengurangi tingkat erosi tanah secara efektif. Efektivitas sistem budidaya lorong dalam mengurangi tingkat erosi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah jenis tanaman pagar yang digunakan, jenis tanah, kemiringan, jarak tanaman pagar, dan waktu aplikasi (Ariani dan Umi, 2018).

Kelemahan Budidaya Lorong (alley cropping)

Penerapan sistem budidaya lorong (alley cropping) memiliki beberapa kelemahan, yaitu sebagai berikut :
  1. Mengurangi luas areal tanam sebanyak ± 20 – 22 % (Alegre and Rao, 1996).
  2. Adanya penambahan biaya dan tenaga untuk penanaman, pemangkasan, pemulsaan dan pemeliharaan tanaman pagar. (Celestino, 1985 dalam Lasco et al., 1996).
  3. Efek allelophati (mengeluarkan aksudat yang bersifat racun bagi tanaman) (Cuezas and Samson, 1982 dalam Lasco et al,. 1996).
  4. Interaksi yang tidak menguntungkan antara pohon dan tanaman pangan/semusim)
Kompetisi cahaya : naungan pohon, menurunkan intensitas cahaya pada level tanaman pangan/semusim. Kompetisi hara dan air : Sistem perakaran tanaman pagar yang dangkal akan berkompetisi dengan tanaman pangan semusim dalam hal hara dan air, menurunkan penyerapan oleh akar tanaman pangan/semusim. Tanaman pagar bisa sebagai inang hama dan penyakit bagi tanaman pangan/semusim dan sebaliknya (Hairiah et al., 2000).

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa Alley cropping pada tanah masam tidak dapat memberikan hasil yang memuaskan apabila tidak disertai dengan penambahan pupuk buatan (Sanchez, 1995) dan jika pupuk buatan diberikan secara lengkap maka pengaruh positif dari tanaman pangan tidak terlihat (Lal, 1991 dalam Sanchez, 1995). - Agroforestry Alley Cropping

Desain Sistem Budidaya Lorong (alley cropping)

Tanaman pangan yang ditanam adalah tanaman semusim. Tanaman pangan ditanam pada lahan yang datar dengan kemiringan rendah. Sedangkan, untuk tanaman pagar sendiri yang ditanam adalah tanaman tahunan. Tanaman pagar ditanam pada bagian ujung lereng mengikuti garis kontur dan pada guludan di lahan miring.

Pemilihan Tanaman Pangan (Tanaman Semusim)

Tanaman pangan pada sistem budidaya lorong (alley cropping) dapat ditanami dengan tanaman semusim yang berusia pendek dan tergantung pada kebiasaan tanam petani setempat. Contohnya yaitu kacang kedelai, padi gogo, jagung, dan tanaman sayuran seperti wortel, selada, atau terung. Jarak antar tanaman pangan bergantung pada jenis tanaman yang ditanam. Misalnya, untuk tanaman kacang kedelai pada umumnya diberi jarak antara 25 cm x 25 cm atau untuk tanaman jagung berjarak antara 75 cm x 20 cm. Pola tanam yang digunakan oleh petani sekitar, sebaiknya menyesuaikan dengan kondisi iklim di Desa Selopamioro. Apabila kondisi iklim memungkinkan maka dapat ditanami terus menerus sepanjang tahun.

Pemilihan Tanaman Pagar (Tanaman Tahunan)

Setelah dipilih jenis tanaman pangan yang akan ditanam kemudian pada ujung lereng dan pada guludan ditanami dengan tanaman pagar atau tanaman tahunan yang dapat tumbuh cepat dan tinggi serta berumur panjang. Tanaman pagar ini ditanam sesuai dengan garis kontur. Lebar lorong atau sela antara tanaman pangan dengan tanaman pagar berkisar antara 2-4 meter. Keuntungan dari tanaman pagar, yaitu meningkatkan nitrogen tanah, mengurangi gulma, mencegah erosi, meningkatkan penyerapan air tanah, dan meningkatkan kelembaban tanah. Terdapat banyak jenis tanaman pagar yang dapat digunakan pada sistem budidaya lorong. Jenis tanaman pagar yang sebaiknya dipilih dalam sistem budidaya lorong dan telah memenuhi persyaratan adalah tanaman legum. Tanaman legum memiliki ciri yaitu pertumbuhannya cepat, mudah ditanam dan bersifat multiguna seperti dapat digunakan untuk bahan pakan ternak, kayu bakar, dan manfaat lainnya. Jenis tanaman legum yang banyak dimanfaatkan untuk budidaya lorong antara lain adalah kaliandra merah (Caliandra calothyrsus), kaliandra putih (Caliandra tetragona), gamal (Gliricidia sepium), lamtoro gung (Leucaena leucochephala), flemingia (Flemingia congesta), atau turi (Sesbania grandiflora).

Agroforestry Alley Cropping - apabila kondisi lahan miring dan kering sebaiknya dipilih jenis tanaman pagar yang sesuai dengan kondisi tersebut, yaitu flemingia (Flemingia congesta). Flemingia umumnya ditanam dengan menggunakan biji dengan jarak antar biji sekitar 5-10 cm. Pemilihan jenis tanaman pagar ini karena flemingia memiliki kemampuan yang baik dalam mengurangi tingkat erosi dan mengurangi besarnya limpasan permukaan (run off) dibandingkan dengan jenis tanaman pagar lainnya. Dengan demikian, diharapkan ketika terjadi curah hujan yang tinggi, tingkat erosi dan limpasan permukaan dapat dikurangi dengan adanya penambahan tanaman pagar jenis flemingia pada sistem budidaya lorong.

Inovasi dalam Desain Sistem Budidaya Lorong (alley cropping)

Pembuatan Parit Resapan dengan Penampung Sedimen

Contoh inovasi dalam desain sistem budidaya lorong yang pertama adalah pembuatan parit resapan dengan penampung sedimen untuk memudahkan dalam pembersihan sedimen. 

Parit resapan yang didesain, terbagi menjadi dua, yaitu sebelum lereng dan di bawah lereng. Parit resapan sebelum lereng difungsikan untuk dapat menampung sebagian aliran air permukaan sawah, sehingga air yang tertampung dapat diproses masuk ke dalam tanah, ini juga dapat digunakan untuk meminimalisir terjadinya erosi atau pengikisan unsur hara dari sawah. Sedangkan untuk parit sesudah lereng atau yang langsung berhadapan dengan lereng, dapat digunakan untuk mendayagunakan aliran permukaan yang mengalir dari lereng sehingga dapat menekan laju erosi, sedimentasi, serta menurunkan terjadinya debit puncak saat hujan deras untuk mengurangi resiko banjir pada irigasi sawah.

Pembuatan Guludan pada Lahan Miring

Pembuatan guludan dan parit resapan air pada lahan miring bertujuan untuk mempermudah pengomposan sisa tanaman, meningkatkan peresapan air, mengurangi persaingan air dan unsur hara, serta mempermudah pemeliharaan saluran/parit dan guludan. Beberapa tambahan keuntungan tersebut diharapkan dapat mempermudah dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan sisa tanaman serta upaya konservasi air dan unsur hara untuk mencegah terjadinya erosi, banjir, dan pencemaran perairan. Selain itu, pembuatan guludan dan saluran ini juga diharapkan dapat mengurangi besarnya laju limpasan permukaan ketika musim hujan.

Keuntungan Desain Sistem Budidaya Lorong (alley cropping)

Sistem budidaya lorong memiliki beberapa keuntungan baik dari sisi ekologi, ekonomi, dan sosial. Pada sisi ekologi, budidaya lorong berperandalam menyumbangkan bahan organik dan hara terutama nitrogen untuk tanaman pangan. Selain itu, dapat mengurangi laju aliran permukaan dan erosi apabila tanaman pagar ditanam secara rapat menurut garis kontur. Adanya terpaan angin juga dapat diminimalisir sehingga tanaman musiman tetap dalam kondisi yang baik. Dengan demikian, sistem budidaya lorong dapat meningkatkan keanekaragaman hayati dan keseimbangan agroekosistem.

Pada sisi ekonomi, budidaya lorong dapat menghemat biaya pengolahan lahan karena tidak perlu dilakukan pembajakan untuk menggemburkan tanah. Selain itu, juga dapat mengurangi biaya pemupukan dengan memanfaatkan daun tanaman pagar untuk dijadikan kompos atau mulsa. Ranting pohon tahunan yang ditanam juga dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Selanjutnya, pada sisi sosial, sistem budidaya lorong berperan dalam meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi serta pengangguran dapat dikurangi. Apabila sistem ini dimanajemen dengan baik dan estetik, maka dapat dijadikan sebagai nilai tambah tersendiri untuk membangun sistem sosial dalam pertanian.

Kelemahan Desain Sistem Budidaya Lorong (alley cropping) dan Solusi Mengatasinya

Kelemahan dari desain sistem budidaya lorong adalah adanya pemberian tanaman pagar mampu menurunkan intensitas sinar matahari ketika musim kemarau, sehingga produktifitas tanaman pangan dapat mengalami penurunan pula. Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dilakukan pemangkasan tanaman pagar secara rutin. Cara melakukan pemangkasan tanaman pagar adalah mula-mula tanaman pagar dibiarkan tumbuh sampai tingginya sekitar 1,5 m atau berumur sekitar enam bulan sebelum dilakukan pemangkasan pangkas untuk pertama kalinya. Pemangkasan berikutnya dapat dilakukan sekali setiap tiga bulan. Pemangkasan dilakukan pada ketinggian 50 cm di atas permukaan tanah. Hasil pemangkasan kemudian disebar merata pada lorong di antara barisan tanaman semusim. Keuntungan dari pemangkasan ini adalah mengurangi persaingan sinar matahari antara tanaman pagar dengan tanaman pangan. Persaingan sinar matahari oleh tajuk tanaman pagar ini dapat diatasi dengan memangkas tajuk tanaman pagar secara teratur selama musim pertanaman komoditas tanaman yang dibudidayakan di lorongnya, tetapi persaingan penyerapan air dan unsur hara oleh akar tanaman pagar sulit dihindari karena terus berkembang menyebar di dalam tanah pada areal tanaman pangan. Sisa tanaman hasil pangkasan tanaman pagar disarankan untuk dikembalikan sebagai mulsa disebarkan di antara barisan tanaman pangan.

Sekian penjelasan mengenai Agroforestry Alley Cropping atau penerapan agroforestri dengan budidaya lorong. mohon maaf apabila ada kesalahan materi maupun desain yang telah dibuat, apabila ada kesalahan silahkan kritik di kolom komentar, semoga bermanfaat.

Posting Komentar

0 Komentar

close